di kongres batam kemarin saya melontarkan gagasan yang saya kira layak untuk kita pikirkan bersama, yakni tentang penyelenggaraan kongres. sistem kongres yang kita buat menurut saya hanya melanggengkan praktik politik praktis (siapa punya uang dia yang punya peluang besar untuk menang) selain juga (hampir) selalu menimbulkan kerusuhan. bayangkan, tradisi yang sudah berumur di mana para kandidat harus siap berpuluh juta sebagai imbal balik dari komitmen politik dari cabang untuk memberikan suaranya. dengan 200 lebih cabang yang ada, kita bisa memperkirakan berapa jumlah uang politik yang beredar (meskipun saya yakin tidak semua cabang dan tidak semua kandidat melakukan praktik tersebut). apalagi kalau tempat penyelenggaraan kongres seperti di batam kemarin. implikasi dari politik uang tersebut adalah dependensi politik, baik dari cabang ke para kandidat maupun dari para kandidat ke aktor eksternal (misalnya politisi, pengusaha, atau pihak manapun yang punya kepentingan yang kontra produktif dengan kepentingan PMII secara idealita). dependensi tersebut tentu saja sangat buruk dan kontraproduktif dampaknya bagi PMII yang ingin menjadi agen perubahan. selain itu, para kader yang sebenarnya memiliki kapasitas leadership memadai menjadi ngeri untuk berkontestasi di kongres karena melihat praktik yang semacam itu. akhirnya mereka mundur, takut untuk berkontestasi. Baca selebihnya »
Filed under: Interupsi | Ditandai: batam, Interupsi, kongres | Tinggalkan sebuah Komentar »